Kamis, 25 Juni 2009

Sejarah D'masiv

·

Awalnya nama band kami bernama Massive, karena artinya sesuatu yang besar. Nama juga kan, sebuah doa. Dari awal berdiri, kami langsung bergerilya dari satu festival musik ke festival musik lainnya. Ini dilakukan untuk mengasah kemampuan, sekaligus mengenalkan band pada khalayak musik. Saking seriusnya bermusik, kami membuat target, seminggu paling sedikit ikut 1 festival.

Untuk biaya pendaftaran, tentu saja kami patungan. Tapi, kalau semua personil sedang tak punya uang, kami pun tak segan-segan mengamen naik turun bis kota. Metromini jurusan Ciledug-Blok M adalah bis langganan kami. Mulanya deg-degan juga. Paling grogi saat harus bicara pada para penumpang bis, sebelum mulai beraksi.

Saking seringnya ikut festival, kami kerap bolos sekolah. Mulanya, pihak sekolah mempertanyakan. Tapi setelah tahu kegiatan kami positif, akhirnya kami diizinkan tak masuk kelas tiap ada festival. Kadang, untuk 1 festival, kami bolos sampai 2 hari.

Tak hanya pihak sekolah yang mulanya kurang menunjukkan dukungan. Orangtua kami pun mulanya merasa ragu. Apalagi saat kami mulai menunjukkan keseriusan di musik dan memilih tak melanjutkan kuliah dulu. Di mata orangtua, dunia musik tak menjanjikan masa depan yang cerah.

Padahal, bakat seni yang mengalir di diri kami, mereka yang wariskan, lo. Misalnya saja Rian yang bernama asli Rian Ekky Pradipta. Sejak kecil Rian yang kelahiran 17 November 1986 ini sudah dicekoki musik oleh Ayahnya yang adalah pemusik.

Dari umur 3 tahun, Rian sudah sering dibawa naik-turun panggung. Kala itu, Rian kecil yang cengeng dan sangat takut pada tikus, tak canggung melompat-lompat di atas panggung mengikuti musik rock ‘n rol yang dibawakan sang Ayah yang sering manggung di berbagai kafe.

Suara emas Rian pun sudah terlihat sejak usia dini. Meski kemampuan menyanyinya baru diakui setelah duduk di bangku SMP, tapi dari kecil Rian kerap memenangi lomba Adzan dan lomba baca Al Quran, selain juga berprestasi di bidang akademis.

Melebihi sang kakak, Rian, prestasi Kiki di bidang akademis luar biasa menonjol. Sedari kecil, Kiki yang punya nama lengkap Dwikky Aditya Marsall ini dikenal sebagai anak pandai yang pendiam. Dari usia TK, Kiki selalu menuai pujian para guru. Kiki selalu mendapat rangking 1. Saking pintarnya, Kiki sampai-sampai pernah mendapat beasiswa dan ditawari untuk loncat kelas.

Namun soal musik, Kiki kecil kalah dibanding sang kakak. Kala itu bakat musik Kiki memang belum terlihat. Tapi tak berarti Kiki tak punya kiprah sama sekali. Selain sempat merasakan jadi juara lomba Adzan, Kiki yang kelahiran Yogyakarta, 21 November 1988 ini pun pernah bergabung dengan grup qasidah di sekolahnya.

Koki Ngeband
Bakat musik yang besar dari usia dini justru ditunjukkan oleh Nurul Damar Ramadhan alias Rama. Dari kelas 3 SD, Rama sudah tergila-gila pada musik. Sang kakak tertualah yang mengenalkan Rama pada dunia satu ini. Selain mengajari main musik, sang kakak juga sering mengajak Rama kecil menonton konser grup band besar seperti Gigi dan Slank.

Karena dasarnya memang berbakat, sejak kelas 4 SD, Rama sudah diterima bergabung dalam grup band yang personilnya sudah duduk di bangku SMA dan kuliah. Melihat keseriusan Rama, orang tuanya pun memberi izin. Apalagi, sejak kecil Rama adalah anak yang baik dan penurut.

Saking baiknya, Rama jarang sekali menyusahkan orang tuanya. Kalau ingin membeli sesuatu, Rama yang lahir di Jakarta, 2 Mei 1987 ini memilih menabung uang jajannya. Jika telah lama menabung tapi uang yang terkumpul belum cukup, baru deh, Rama minta bantuan orangtuanya. Tak hanya jadi anak baik di rumah, di sekolah pun Rama jadi tauladan berkat prestasi akademis dan kegiatannya di pramuka.

Sementara Wahyu alias Wahyu Piaji, terkenal pemalu dan pendiam sedari kecil. Wahyu bocah amat jarang bergaul. Teman bermainnya bisa dihitung dengan jari. Di dalam kelas, paling Wahyu ngobrol dengan teman sebangkunya saja. Hal ini terus berlanjut hingga SMP, bahkan SMA. Berantem atau tawuran, tak ada dalam kamus pria kelahiran 1 Februari 1987 ini. Tapi jangan tanya bakat musiknya. Kelas 6 SD Wahyu sudah bergabung dengan sebuah band.

Nah, di antara 5 personil Massive, Rayyi Kurniawan lah yang bakat musiknya paling akhir muncul. Rai kecil lebih tertarik dengan olahraga beladiri daripada berkesenian. Mengikuti jejak sang kakak, Rai aktif di pencak silat. Rai yang kelahiran Jakarta, 3 Maret 1988 ini adalah bocah yang ambisius. Kalau melihat anak tetangga punya mobil-mobilan baru, Rai akan menuntut yang lebih bagus pada orang tuanya. Kalau tak dikabulkan, Rai akan ngambek.

Di bangku SMP, Rai mulai nakal. Selain suka bolos dan memintai uang teman-temannya, Rai juga sering berantem, bahkan ikut tawuran. Lucunya, kenakalan Rai berakhir gara-gara ia terdampar di sekolah pariwisata, setelah lulus SMP. Menyimpang dari musik, Ray malah mengambil jurusan masak alias koki.

Banci Tampil
Demikianlah bakat-bakat otodidak bergabung di bawah bendera Massive. Jika banyak anak muda ngeband hanya karena iseng atau keren-kerenan, Massive tidak. Terbukti, setiap kali manggung atau ikut festival, Massive selalu membawakan lagu sendiri. Memang, sejak di bangku SMP, Rian sudah sering mencipta lagu.

Tapi kelebihan satu ini tak serta merta membawa Massive menjadi juara di tiap festival. Namanya juga anak baru, awalnya Massive lebih sering kalah daripada menang. Malah, pernah Massive menanggung malu gara-gara saat tampil di panggung, masing-masing personil memainkan alat musik di kunci yang berbeda.

Satu yang pasti, setiap mengikuti festival, Massive selalu serius. Tak ada kata main-main. Maklum, kalau menang, selain dapat piala, biasanya juga ada hadiah uang. Dari uang hadiah inilah Massive bisa menyambung nafas di dunia musik. Tapi tak semua festival memberi hadiah dalam jumlah besar, lo.

Pertama kali menang, Massive hanya mengantongi uang 300 ribu rupiah. Itu pun harus dibagi berlima. Seiring berjalannya waktu, nama Massive mulai disegani di jalur festival. Massive pun mulai berani menjajal festival yang menjanjikan hadiah lumayan, berkisar di angka jutaan. Meski begitu, Massive tak lantas pilih-pilih. Kecil atau besar, festival 17 Agustus-an tingkat RT hingga festival kelas nasional, semua diikuti. Selain mengejar hadiah, kami memang tergila-gila naik panggung. Istilahnya “banci tampil”.

Bahkan, saking senangnya jadi pusat perhatian, setiap ada kegiatan di lingkungan sekitar, Massive pasti menawarkan diri. Manggung di acara sunatan, sampai jadi band kawinan pun dijalani. Kami memang sangat menikmati setiap detik beraksi di atas panggung. Seminggu tak naik panggung, rasanya bete setengah mati.

0 komentar:

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Calendar

Chat Here

Peta Kudus

Peta Kudus